Sabtu, 12 Januari 2019

Kisah bakti Kilab pada kedua orang tuanya

Seorang laki-laki bernama Kilab bin Umayyah bin Askar. Dia memiliki ayah dan ibu yang sudah tua. Dia menyiapkan susu untuk keduanya tiap pagi dan petang hari. Kemudian datanglah dua orang menemui Kilab, mereka membujuknya untuk pergi berperang. Ternyata Kilab tertarik dengan ajakan tersebut, lalu dia membeli seorang hamba sahaya untuk menggantikannya mengasuh kedua orang tuanya. Setelah itu Kilab pun pergi berjihad.
Suatu malam, hamba sahaya tersebut datang dan membawa gelas jatah susu petang hari kepada ibu dan bapak Kilab, ketika keduanya sedang tidur. Dia menunggu sesaat dan tidak membangunkannya lalu pergi. Di tengah malam keduanya terbangun dalam keadaan lapar, bapak Kilab berkata,
“Dua orang telah memohon kepada Kilab dengan kitabullah. Keduanya telah bersalah dan merugi. Kamu meninggalkan bapakmu yang kedua tangannya gemetar, dan ibumu tidak bisa minum dengan nikmat. Jika merpati itu bersuara di lembah Waj karena telur-telurnya, kedunya mengingat Kilab. Dia didatangi oleh dua orang yang membujuknya. Wahai hamba-hamba Allah, sungguh keduanya telah durhaka dan merugi. Aku memanggilnya lalu dia berpaling dengan menolak. Maka dia tidak berbuat yang benar. Sesungguhnya ketika kamu mencari pahala selain dari berbakti kepadaku, hal itu seperti pencari air yang memburu fatamorgana. Apakah ada kebaikan setelah menyia-nyiakan kedua orang tua? Demi bapak Kilab, perbuatannya tidak dibenarkan.”
Jika ada orang luar Madinah yang datang ke kota Madinah, Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu selalu menanyakan tentang berita-berita dan keadaan mereka. Umar bertanya kepada salah seorang yang datang, “Dari mana?” Orang itu menjawab, “Dari Thaif.” Umar bertanya, “Ada berita apa?” Orang itu menjawab, “Aku melihat seorang laki-laki berkata (laki-laki ini menyebut ucapan bapak Kilab di atas).” Umar menangis dan berkata, “Sungguh Kilab mengambil langkah yang keliru.”
Kemudian bapak Kilab, Umaiyah bin Askar dengan penuntunnya menemui Umar yang sedang di masjid. Dia mengatakan, “Aku dicela. Kamu telah mencelaku tiada batas, dan kamu tidak tahu penderitaan yang kurasakan. Jika kamu mencelaku, maka kembalikanlah Kilab manakala dia berangkat ke Irak. Pemuda mulia dalam kesulitan dan kemudahan, kokoh dan tangguh pada hari pertempuran. Tidak, demi bapakmu, cintaku kepadamu tidaklah usang. Begitu pula harapanku dan kerinduanku kepadamu. Seandainya kerinduan yang mendalam membelah hati, niscaya hatiku telah terbelah karena kerinduan kepadanya. Aku akan mengadukan al-Faruq (maksudnya Umar bin Khattab) kepada Tuhannya yang telah menggiring jamaah haji ke tanah berbatu hitam. Aku berdoa kepada Allah dengan berharap pahala dari-Nya di lembah Akhsyabain sampai air hujan mengalirinya. Sesungguhnya al-Faruq tidak memanggil Kilab untuk pulang kepada dua orang tua yang sedang kebingungan.”
Umar menangis, lalu beliau menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari agar memulangkan Kilab ke Madinah. Abu Musa berkata kepada Kilab, “Temuilah Amirul Mukminin Umarbin Khattab.” Kilab menjawab, “Aku tidak melakukan kesalahan, tidak pula melindungi orang yang bersalah.” Abu Musa berkata, “Pergilah!”
Kilab pulang ke Madinah. Ketika Umar bertemu dengannya, beliau mengatakan, “Sejauh mana kamu berbuat baik kepada orang tuamu?” Kilab menjawab, “Aku mementingkannya dengan mencukupi kebutuhannya. Jika aku hendak memerah susu untuknya, maka aku memilih onta betina yang paling gemuk, paling sehat dan paling banyak susunya. Aku mencuci puting susu onta itu, dan barulah aku memerah susunya lalu menghidangkannya kepada mereka.”
Umar mengutus orang untuk menjemput bapaknya. Bapak Kilab datang dengan tertatih-tatih dan menunduk. Umar bertanya kepadanya, “Apa kabarmu, wahai Abu Kilab?” Dia menjawab, “Seperti yang Anda lihat wahai Amirul Mukminin.” Umar bertanya, “Apakah kamu ada kepeluan?” Dia menjawab, “Aku ingin melihat Kilab. Aku ingin mencium dan memeluknya sebelum aku mati.” Umar menangis dan berkata, “Keinginanmu akan tercapai insya Allah.”
Kemudian Umar memerintahkan Kilab agar memerah susu onta untuk bapaknya seperti yang biasa dia lakukan. Umar menyodorkan gelas susu itu kepada bapak Kilab sambil berkata, “Minumlah ini, wahai bapak Kilab.” Ketika bapak Kilab mendekatkan gelas ke mulutnya, dia berkata, “Demi Allah, aku mencium bau kedua tangan Kilab.” Umar mengatakan, “Ini Kilab, dia ada di sini. Kami yang menyuruhnya pulang.” Bapak Kilab menangis dan Umar bersama orang-orang yang hadir juga menangis. Mereka berkata, “Wahai Kilab, temani kedua orang tuamu.” Maka Kilab tidak pernah lagi meninggalkan mereka sampai wafat.


Jumat, 11 Januari 2019

Wanita inspiratif dari Andalusia


Berikut ada 20 Wanita Inspiratif dari Andalusia
Berikut ini adalah biografi singkat 27 orang perempuan Andalusia di abad pertengahan. Profil mereka diambil dari Kitab al-Silah Ibnu Bashkuwal (wafat 1183), Takmilat Kitab al-Silah oleh Ibn al-Abbar (wafat 1260), dan Kitab Silat al-Sila oleh Ibn al-Zubair (wafat 1308). Tokoh-tokoh perempuan ini berasal dari berbagai kelas masyarakat dan berbagai daerah Andalus. Mereka memiliki kontribusi dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan antara abad kesembilan dan ketiga belas. Catatan-catatan biografi ini memberikan wawasan penting tentang sejarah sosial dan intelektual Andalusia. Sehingga masyarakat saat ini bisa mengetahui peran perempuan Andalusia dalam penyebaran pengetahuan selama Abad Pertengahan.

Pertama: Fatimah binti Yahya bin Yusuf al-Maghami.
Fatimah binti Yahya adalah saudarai dari ahli fikih, Yusuf bin Yahya al-Maghami. Fatimah dikenal sebagai sosok perempuan yang paling luas pengetahuannya, dermawan, dan bijak di eranya. Ia tinggal di kota ilmu, Cordoba, dan wafat di sana sekitar tahun 319 H/931 M. Pemakamannya dihadiri begitu banyak khalayak. Bahkan termasuk wanita yang prosesi pemakamannya paling banyak dihadai oleh orang-orang dalam sejarah Kota Cordoba. Tentu ini menunjukkan bagaimana masyarakat Islam menghargai seorang wanita.
Kedua: Aisyah binti Ahmad bin Muhammad bin Qadim.
Sama halnya dengan Fatimah binti Yahya, Aisyah binti Ahmad juga berasal dari Cordoba. Seorang ilmuan besar sekelas Ibnu Hayyan (wafat 469 H/1075 M) berkata tentang dirinya, “Di Semenanjung Iberia di masanya, tak ada satu pun yang sebanding dengannya dalam hal ilmu pengetahuan, keunggulan, kemampuan sastra, penggubah puisi, kefasihan, kebijakan, ketulusan, kedermawanan, dan kebijaksaan. Ia sering menulis pidato yang memuji raja-raja di zamannya kemudian berbicara di majelis mereka. Ia begitu lihai menggores kaligrafi kemudian menyalin ayat Alquran dalam buku-buku lainnya. Ia seorang kolektor buku dengan koleksi buku yang begitu banyak. Dan begitu semangat mencari ilmu. Wanita kaya ini wafat menyandang status gadis, tak pernah menikah. Ia wafat pada tahun 400 H/1009 M.
Ketiga: Khadijah binti Ja’far bin Nusair bin Tammar at-Tamimi.
Khadijah binti Ja’far adalah istri dari ahli fikih Abdullah bin Asad. Ia meriwayatkan kitab al-Muwatta karangan Al-Qa’nabi dari suaminya. Setelah rampung mempelajari kitab itu, Khadijah menguatkan hafalanya dengan cara menyalin ulang kitab tersebut pada tahun 394 H/1003 M.
Jembatan bersejarah di Kota Cordoba. Pondasinya dibangun oleh Kaisar Romawi Augustus. Kemudian dipugar oleh umat Islam hingga terlihat seperti sekarang.
Keempat: Radhiyah
Radhiyah dikenal sebagai Najm. Ia merupakan bekas budak perempuan khalifah Abd al-Rahman III. Setelah menikah dengan seorang budak yang bernama Labib, Khalifah al-Hakam menebusnya hingga ia menjadi wanita merdeka. Labib dan Radhiyah berangkat bersama untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah pada tahun 353 H/964 M. Pasangan suami istri ini ahli dalam membaca dan menulis.
Abu Muhammad bin Khazraj meriwayatkan hadits dari Radhiyah. Dalam beberapa bukunya, Abu Muhammad mengatakan Radhiyah wafat pada tahun 423 H/1032 M. Saat ituia berusia hampir 100 tahun.
Kelima: Fatimah binti Zakariyya bin Abdullah al-Khatib as-Shiblari.
Fatimah binti Zakariyyah adalah seorang juru tulis yang terkenal. Allah memberinya usia yang panjang hingga 94 tahun. sebagian besar waktunya ia khidmatkan untuk dunia tulis-menulis. Menulis surta dan buku-buku. Ia seorang penulis yang handal dan fasih retorikanya. Ibnu Hayyan menyebutkan bahwa Fatimah binti Zakariyyah wafat pada tahun 427 H/1036 M.
Keenam: Maryam binti Abi Ya’qub al-Faysuli ash-Shalabi.
Maryam binti Abi Ya’qub adalah seorang penyair terkenal. Seorang wanita sastrawan yang mengajar sastra untuk kalangan perempuan. Selain piawai dalam sastra, ia dikenal dengan keshalehannya. Asbagh bin Abi Sayyid al-Ishbili memuji Maryam dalam syairnya sebagai wanita yang mewawisi keshalehan Maryam ibunda Nabi Isa. Dan kemahiran dalam puisi bak titisan al-Khansa radhiallahu ‘anha.
Ketujuh: Khadijah binti Abi Muhammad Abdullah bin Said ash-Shantajiyah.
Khadijah tinggal bersama ayahnya dalam waktu yang lama. Ia adalah seorang wanita yang tekun mengkaji Shahih al-Bukhari. Ia belajar dari seorang ulama yang bernama Abu Dzar Abdullah bin Ahmad al-Harawi. Selain Shahih al-Bukhari, Khadijah juga memenuhi waktunya dengan mengkaji buku-buku lainnya. Ia juga pernah bersafar ke Mekah untuk belajar dari beberapa ulama. Bersama ayahnya, ia pergi menuju Andalusia dan wafat di sana, semoga Allah merahmatinya.
The Mosque of Cristo de la Luz. Bekas masjid peninggalan umat Islam. Terletak di Kota Toledo
Kedelapan: Walladah binti al-Mustakfi Billah Muhammad bin Abdurrahman bin Ubaidullah bin Abdurrahman III.
Dari silsilah nasabnya, kita mengetahui Walladah adalah seorang bangsawan keturunan raja Daulah Umayyah II di Andalusia. Ia seorang sastrawan dan penyair terkemuka. Fasih lisannya. Mahir dalam qiroa-at. Tidak ada yang menandinginya dalam kehormatan.
Diriwayatkan bahwa ia wafat pada 2 Safar 484 H/26 Maret 1091 M. Hari dimana Murabithun berhasil menaklukkan Cordoba.
Masjid Raya Cordoba yang sekarang berubah menjadi fungsi menjadi gereja.
Kesembilan: Ummu al-Hasan binti Abi Liwa bin Asbagh bin Abdullah bin Wansus bin Yarbu al-Miknasi.
Yarbu al-Miknasi merupakan mantan budak dari Khalifa Umayyah, Sulaiman bin Abdul Malik. Ummu al-Hasan adalah murid dari Baqi’ bin Makhlad rahimahullah. Baqi’ bin Makhlad (wafat 276 H/889 M) pernah berjalan dari Spanyol ke Baghdad untuk belajar hadits ke Imam Ahmad bin Hanbal. Sampai-sampai Imam Ahmad takjub dan memuji kesungguhannya dalam belajar. Ummul Hasan membaca kitab al-Duhur di hadapan Baqi’ bin Makhlad. Putra Imam Baqi’ bin Makhlad, Ahmad bin Baqi’ hadir dalam pembacaan kitab itu. Ia menyimak bacaan Ummu al-Hasan melalui kitab untuk memastikan tidak ada kekeliruan pada hafalannya.
Ummul Hasan adalah seorang yang bijak, mampu memutuskan masalah dengan benar. Ia cerdas, zuhud, dan berakhlak mulia. Namanya disebut dalam buku-buku yang mengulas keutamaan Baqi’ bin Makhlad.
Ar-Razi berkomentar tentang Ummu al-Hasan, “Saat menunaikan ibadah haji, ia mengumpulkan pembahasan-pemabasan fikih dan hadits. Bahkan Baqi’ bin Makhlad meriwayatkan hadits darinya. Pada perjalanan haji yang kedua, ia wafat dan dimakamkan di Mekah”.
Ia telah banyak mengerjakan amal kebajikan yang menjadi tabungan pahala untuk akhiratnya. Mencatat ilmu fikih dan hadits sehingga bermanfaat bagi orang-orang setelahnya. Namun pernyataan ar-Razi bahwa Baqi’ meriwayatkan hadits darinya perlu ditinjau ulang. Karena Ummu al-Hasan lah yang mempelajari hadits dari Baqi’ bin Makhlad.
Dalam al-Muskitah, Amir Abdullah bin Abdurrahman III bin Muhammad menyatakan, “Seorang wanita berilmu dan shaleh, putri dari Abu Liwa datang setiap Jumat ke majelis Jumatnya Baqi’ bin Makhlad di rumah Abu Abdurrahman. Wanita itu merupakan seorang berilmu yang istimewa. Ia juga telah berhaji”.
Madinah az-Zahra, kota kuno yang dibangun Abdurrahman an-Nashir di Cordoba.
Kesepuluh: Lubna
Lubna adalah seorang sekretasi istana di zaman Khalifah al-Hakam bin Abdurrahman. Di masa Khalifah terbaik Andalusia, Abdurrahman an-Nashir, ia asisten Muzn (sekretaris khalifah). Kepiawaiannya dalam tulis-menulis tak diragukan lagi. Selain itu, Lubna juga mahir dalam tata bahasa, puisi, dan kemampuan matematika yang juga istimewa. Tidak ada seorang yang istimewa di istana Bani Umayyah melebihi dirinya. Ia meninggal sekitar tahun 367 H/986 M.
Banyak orang mengkhawatirkan, kejayaan Islam atau berpegangnnya suatu negara dengan syariat Islam akan membuat kaum muslimah terkurung dan kehilangan hak-hak mereka. Buktinya, sejarah tidak mecatat demikian. Lihatlah wanita-wanita Andalusia berikut ini:
Kesebelas: Isyraq al-Suwayda al-Arudiyyah.
Isyraq adalah pelayan sekaligus murid dari Abu al-Mutharrif’ Abdurrahman bin Ghalbun al-Qurtubi al-Katib. Dia besar di Valencia dan belajar bahasa Arab, nahwu, dan sastra dari Abu al-Muṭarrif selama saat tinggal di Cordoba. Ketika sang guru pergi dari Cordoba, Isyraq pun ikut pindah dari kota itu. walaupun ia banyak belajar cabang keilmuan kepada al-Mutharrif, namun ia mampu mengungguli gurunya dalam keilmuan.
Isyraq memiliki wawasan luas dan pandai menggubah puisi. Puisi Arab berbeda dengan puisi Indonesia. Seseorang mampu membuat puisi Arab, maka ilmu Bahasa Arab dan gramatikanya berada di level yang tinggi. Apalagi sampai dikatakan orang tersebut mahir dalam puisi. Tentu ini tingkatan keilmuan yang luar biasa.
Abu Dawud Sulaiman bin Najah, seorang qari Alquran, mengatakan, “Aku belajar puisi di bawah bimbingannya. Di hadapannya, kubacakan karya Abu Ali Nawadir dan Abu al-Abbas al-Mubarrad al-Kamil. Ia sepenuhnya hafal kedua karya itu. Dan sering memberikan komentar yang rumit pada keduanya.”
Isyraq meninggal di Valencia pada 443 H/1051 M sebagaimana tercatat dalam buku yang ditulis oleh Ibnu Ayyad yang mengupas tentang wanita-wanita yang ahli dalam membaca Alquran.
Alquran di Andalusia
Kedua belas: Zaynab binti Abi Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Bar al-Nymayri.
Zaynab tumbuh-besar di wilayah Timur Andalusia. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri. Ia terkenal sebagai wanita yang bijak. Ia juga merupakan ibu dari Ibnu Abdil Bar.
Salah satu contoh tulisan tangan.
Ketiga belas: Fatimah binti Abi Ali al-Husein bin Muhammad as-Sadafi.
Fatimah adalah ulama wanita yang berasal dari Zaragoza. Ia tumbuh-besar di Murcia. Ia berpisah dengan ayahnya sedari kecil. Karena sang ayah bergabung dengan militer ci Cutanda. Fatimah seorang ahli ibadah, penghafal Alquran dan hadits, dan mengisi kehidupannya sesuai dengan nilai-nilai Alquran dan Sunnah Rasulullah .
Kemampuan Fatimah dalam menulis Arab, luar biasa. Wanita Eropa ini juga sangat gemar membaca. Ia menikah dengan Abu Muhammad Abdullah bin Musa bin Burtulah, seorang ulama Kota Murcia. Mereka dikaruinia beberapa orang anak. Di antaranya adalah Abu Bakar Abdurrahman.
Fatimah meninggal di atas tahun 590 H/ 1194 dengan usia lebih dari 80 tahun.

Keempat belas: Fatimah binti Abil Qashim Abdurrahman bin Muhammad bin Ghalib al-Anshari al-Sharrat.
Fatimah binti Abil Qashim berasal dari Cordoba. Kun-yahnya adalah Ummul Fath. Dia menghafal Alquran dengan riwayat Nafi’ dari ayahnya sendiri. Di bawah bimbingan ayahnya ia mempelajari sejumlah besar buku. Di antranya Tanbih al-Makki, al-Shihab al-Quda’I, Mukhtashar at-Tulaytali. Selain itu, Fatimah juga mempelajari Shahih Muslim, Sirah Ibnu Hisyam, al-Kamil al-Mubarrad, Nawadir al-Baghdadi. Dan buku-buku lainnya. Semuanya di bawah bimbingan sang ayah.
Wanita yang hebat ini, juga seorang ibu yang luar biasa, anaknya, Abu al-Qasim bin al-Ṭaylasan meriwayatkan hadits dan Alquran riwayat warsy darinya.
Fatimah wafat pada tahun 613 H/1216 M. Ia dimakamkan di pemakaman Ummu Salamah bersama ayah dan saudara-saudaranya.
Kelima belas: Sayyidah binti Abdul Ghani bin Ali bin Utsman al-Abdari.
Kun-yahnya adalah Ummul Ala’. Sayyidah berasal dari Granada, tapi ayahnya –sepupu dari Abul Hajjaj bin Yusuf bin Ibrahim bin Utsman al-Thagri- tinggal di Murcia.
Ayahnya menjabat hakim di Orihuela. Kemudian sang ayah meninggal saat ia masih kecil, jadilah Sayyidah seorang anak yatim. Di Murcia, ia banyak belajar Alquran dan menjadi ahli dalam bidang tersebut. Kemampuan menulisnya luar biasa. Ia pun diangkat menjadi seorang pengajar di komplek kerajaan dan istana sampai sekitar tiga tahun menjelang wafat. Karena sakit keras yang ia derita mencegahnya untuk beraktivitas. Di masa-masa itu, ia tetap menyibukkan diri dengan dunia mengajar. Hanya saja, muridnya hanya dua orang putrinya.
Selain sibuk dengan Alquran, buku-buku karya ulama, dan ibadah-ibadah individual, Sayyidah juga menjadi motivator umat dalam kegiatan sosial. Ia berusaha sekuat mungkin menyisihkan kekayaannya untuk membebaskan budak.
Sayyidah wafat karena penyakit yang ia derita pada Selasa sore, tanggal 5 Muharram 647 H/20 April 1249. Ia dimakamkan pada hari Rabu esok harinya. Di dekat masjid, di pinggiran Tunisia.

Keenam belas: Layla
Layla, mantan budak yang dibebaskan mentri Abu Bakr bin al-Khattab. Layla berasal dari Murcia. Hakim Abu Bakar bin Abi Jamra memujinya sebagai perempuan terbesar di eranya, dalam pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai ilmu.
Banyak laki-laki yang datang meminangnya, tapi ia menolak mereka. Dan kemudian memilih Hakim Agung Granada, Abu al-Qasim bin Hisyam bin Abi Jamra. Seorang ulama yang shaleh dan berpengetahuan luas dan berasal dari keluarga yang mulia.
Layla wafat pada tahun 528 H/1133 M.
Andalusia
Ketujuh belas: Hafshah
Hafsha adalah anak dari seorang ulama, Abu Imran Musa bin Hammad al-Sanhaji. Al-Malahi berkata tentang Hafshah, “Ia menikah dengan hakim Abu Bakr Muhammad bin Ali al-Ghassani al-Marshani. Ia adalah wanita yang mulia. Seorang penghafal Alquran dan cukup mumpuni dalam seni kaligrafi.
Hafshah juga seorang ahli dalam hokum dan akidah. Ia banyak mengutip fatwa ayahnya dalam berbagai kesempatan.
Lahir pada tahun 519 H/1125 M. Dan wafat di Granada. Ia dimakamkan di Pemakaman Bab Elvira
Kedelapan belas: Hafshah binti Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad as-Salami.
Hafshah binti Abi Abdullah adalah guru dalam 7 bacaan Alquran (Qiroah Sab’ah). Ia mempelajari qirorah sab’ah dari ayahnya. Dari ayahnya ia juga menghafal banyak buku hadits dan karya-karya para ulama dari berbagai macam disiplin ilmu. Selain itu, ia juga mempelajari kitab al-Muwattha.
Al-Mahalli mengatakan, “Saya mendapatkan informasi bahwa ia membaca kitab al-Muwattha di hadapan kakek dari jalur ayah (paman ayahnya), Abu Bakr Yahya bin Arus at-Tamimi”. Ia adalah wanita yang fasih lisannya dan sangat pandai membaca. Ia dapat membaca manuskrip-manuskrip yang tulisannya sulit dibaca.
Ia wafat di usia muda, 27 tahun. pada 15 Ramadhan 580 H/20 Desember 1184 M.

Kesembilan belas: Aisyah
Asiyah adalah anak perempuan dari al-Qadhi Abu al-Khattab Muhammad bin Ahmad bin Khalil. Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya. Selain itu, ia juga mendapatka ijazah pengakuan keilmuan dari beberapa ulama. Ia dikenal sebagai wanita yang bijak yang memiliki pengetahuan yang detil tentang nasab keluarganya.
Aisyah dikenal sebagai wanita yang teliti, ahli, dan perhatian. Namun ia hanya memiliki sedikit murid.
Kedua puluh: Dhunah binti Abdul Aziz bin Musa bin Thahir bin Muta’.
Dhunah dikenal juga dengan kun-yahnya, Ummu Habibah. Ia adalah istri dari Abul Qasim bin Mudir. Ia belajar di bawah bimbingan Abu Umar bin Abdul Barr dan berhasil menstraskrip beberapa karya gurunya ini. Gurunya yang lain adalah Abul Abbas al-‘Udhri.
Sisi menarik dari Dhunah adalah suaminya belajar darinya. Wanita yang terkenal dengan kerendahan-hati dan keshalehannya ini mampu menulis dengan indah.
Ia lahir ada tahun 437 H/1045 M dan wafat pada tahun 506 H/1112 M.

Penutup
Demikianlah beberapa figur wanita istimewa di zaman kejayaan Islam di Andalusia. Tentu keistimewaan mereka menjawab keraguan atau tuduhan miring yang diarahkan kepada umat Islam. Tuduhan tanpa bukti yang menyatakan bahwa syariat Islam merendahkan dan menghalangi kemajuan wanita.
Hal menarik lainnya yang kita dapat petik pelajaran dari profil-profil mereka adalah mereka memiliki ayah atau suami yang berilmu. Tidak hanya berilmu, ayah dan suami mereka memiliki perhatian yang besar dalam mendidik keluarganya. Kemudian kesibukan mereka sebagai ibu rumah tangga tidak menghalangi mereka dari menuntut ilmu.


Kamis, 10 Januari 2019

KJ Kita selalu lalai

Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ القَوِيْمِ وَدَعَا إِلَى الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
Amma ba’du:
Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah …
Tak bosan-bosannya kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas limpahan rahmat dan karunia sehingga terus berada dalam keadaan sehat wal afiat dan diberi umur panjang. Lebih dari itu semua, Allah masih memberikan kepada kita nikmat iman dan Islam yang patut kita syukuri dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102).
Allah Ta’ala juga memerintahkan kepada kita untuk muhasabah diri dengan memperbaiki ketakwaan kita,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Maksud ayat ini kata Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَانْظُرُوا مَاذَا ادْخَرْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ لِيَوْمِ مَعَادِكُمْ وَعَرَضَكُمْ عَلَى رَبِّكُمْ
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah apa yang telah kalian siapkan untuk diri kalian berupa amal shalih untuk hari di mana kalian akan kembali dan setiap amal kalian akan dihadapkan kepada Allah.”
Ibnul Jauzi dalam Zaad Al-Masiir berkata,
لِيَنْظُرَ أَحَدُكُمْ أَيَّ شَيْءٍ قَدَّمَ؟ أَعَمَلًا صَالِحًا يُنْجِيْهِ؟ أَمْ سَيِّئاً يُوبِقُهُ؟
“Supaya salah seorang di antara kalian melihat apa saja amalan yang telah ia siapkan. Apakah yang ia siapkan adalah amalan shalih yang dapat menyelamatkan dirinya ataukah amalan kejelekan yang dapat membinasakannya?”
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi akhir zaman, yang telah mendapatkan mukjizat paling besar dan menjadi pembuka pintu surga, yaitu nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat dan setiap orang yang mengikuti salaf tersebut dengan baik hingga akhir zaman.

Para jama’ah shalat Jum’at rahimani wa rahimakumullah …
Tak dipungkuri, kita termasuk orang-orang yang lalai dari ketaatan dan berdzikir pada Allah, lebih-lebih lagi dalam mengingat akhirat. Apa buktinya?

Lihat saja diri kita?

Kita kurang memperhatikan ibadah wajib. Kalau pun memperhatikan ibadah wajib, pasti ada kekurangan dalam yang sunnah atau kita merasa “sudah lah cukup dengan wajib saja”. Kebiasaan kita juga menganggap maksiat bahkan dosa besar sebagai hal yang biasa.
Lebih-lebih ada yang tidak beriman pada Allah, maka kelalaiannya sampai pada taraf yang sempurna, tidak mengingat akhirat sama sekali, hidupnya layaknya binatang ternak, hanya paham makan, minum, tidur, bersenang-senang dan istirahat. Inilah yang Allah sebutkan,
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12)
Jangan-jangan kita yang mengaku sebagai muslim, keadaannya malah seperti binatang ternak di atas. Na’udzu billah min dzalik.

Apa sebab yang membuat kita bisa berada dalam ghaflah (kelalaian)?

Pertama: Ingin terus rehat atau beristirahat. Padahal rehat yang hakiki nanti di akhirat sedangkan dunia adalah masa kita untuk beramal.
Kedua: Semangat dalam mencari kelezatan dunia. Akibatnya nanti adalah melalaikan kewajiban dan menerjang yang haram demi dunia.
Ketiga: Karena sudah mati rasa terhadap dosa. Bahkan ada yang merasa bahwa dosa yang diterjang adalah suatu kebaikan.
Keempat: Mengikuti hawa nafsu.
Kelima: Sibuk dengan kerja dan mencari nafkah.
Mukmin yang terpuji adalah jika bisnis dan pekerjaan dunia yang ia jalani tidak melalaikannya dari mengingat Allah sebagaimana disebut dalam ayat,
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ (36)
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ (37)
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nuur: 36-37)
Keenam: Waktu dihabiskan dengan permainan dan games.
Ketujuh: Banyak bersenang-senang dengan pakaian, makanan dan kelezatan dunia.
Kedelapan: Cinta dunia dan merasa hidup lama.
Kesembilan: Berteman dengan orang-orang yang lalai (ghaflah).
Disebutkan dalam ayat,
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Kesepuluh: Banyak sibuk dengan hal mubah.
Contoh banyak “ngobrol” setelah Isya sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” (HR. Bukhari, no. 568)

Karena sebab di atas bisa membuat kita lalai dalam berbagai bentuk kelalaian berikut ini.

  1. Enggan duduk dalam majelis ilmu untuk mempelajari agama.
  2. Enggan mempelajari Al-Qur’an dengan membaca, memahami dan menghafalkannya serta mendalami ilmu di dalamnya.
  3. Enggan berdzikir kepada Allah.
  4. Enggan membaca dan menghafalkan dzikir yang bisa digunakan untuk melindungi diri.
  5. Lalai dalam memperhatikan niat.
  6. Beramal namun tidak memperhatikan manakah amalan yang lebih prioritas dari yang lainnya.
Demikian khutbah pertama ini. Moga Allah memberi taufik dan hidayah.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
Jamaah Shalat Jumat yang moga senantiasa diberkahi oleh Allah Ta’ala …

Cara untuk menghilangkan ghaflah (kelalaian)
  1. Berada dalam majelis ilmu.
  2. Rajin berdzikir.
  3. Rajin berdoa.
  4. Shalat malam.
  5. Ziarah kubur.
  6. Tadabbur keadaan sekitar kita seperti merenungkan kematian yang ada di sekeliling kita.
  7. Mengingat surga dan neraka.
Moga kita terhindar dari kelalaian dan terus istiqamah taat dalam beribadah.
Di hari Jumat yang penuh berkah ini, kami ingatkan untuk memperbanyak shalawat pada Nabi kita Muhammad. Siapa yang bershalawat pada Nabi sekali, maka Allah akan membalas shalawatnya sebanyak sepuluh kali. Juga tak lupa nantinya kita berdoa pada Allah di hari penuh berkah ini, moga doa-doa kita diperkenankan oleh Allah Ta’ala.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِى دِينِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى
اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Referensi utama:

Mufsidaat Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 89-120.


KJ Keutamaan umat islam atas umat yang lain

إنَّ الـحَمْدَ لِلّٰهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Ummatal Islam,
Sesungguhnya diantara nikmat yang Allah berikan kepada kita yang terbesar adalah diberikan hidayah kepada Islam, kepada agama yang Allah ridhai. Allah ta’alaberfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّـهِ الْإِسْلَامُ ۗ …
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Ali-Imran[3]: 19)
Allah juga berfirman:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٨٥﴾
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali-Imran[3]: 85)
Allah telah memberikan banyak sekali keistimewaan kepada umat Islam. Diantara keistimewaan tersebut yang ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih.
Umat Terbaik
Umat Islam adalah umat yang terbaik yang Allah keluarkan kepada manusia. Allah berfirman:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ ﴿١١٠﴾
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imran[3]: 110)
Umat Terakhir
Umat Islam adalah umat yang terakhir, namun pada hari kiamat mereka yang pertama kali masuk ke dalam surga. Mereka yang pertama kali dihisab oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، بَيْدَ أَنَّهُمْ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا، وَأُوتِينَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ، فَاخْتَلَفُوا، فَهَدَانَا اللهُ لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ، فَهَذَا يَوْمُهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ، هَدَانَا اللهُ لَهُ
Kita (umat Muhammad) adalah yang terakhir (datang ke dunia), tetapi yang terdahulu (diadili) pada hari kiamat. Kita adalah yang paling dahulu masuk surga, padahal mereka diberi kitab lebih dahulu dari kita, sedangkan kita sesudah mereka. Lalu mereka berselisih, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kita, yakni kebenaran dari apa yang mereka perselisihkan. Inilah hari yang mereka perselisihkan, sedangkan Allah telah menunjukkannya kepada kita.” (HR. Muslim)
Pahala dua kali lipat

Umat Islam diberikan pahala dua kali lipat dibandingkan umat-umat sebelum kita yaitu Yahudi dan Nasrani. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan umat Islam dengan kaum Yahudi dan Nasrani. Beliau mengatakan:
إِنَّمَا مَثَلُكُمْ وَالْيَهُودُ وَالنَّصَارَى كَرَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ مَنْ يَعْمَلُ لِي إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ عَلَى قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ فَعَمِلَتْ الْيَهُودُ عَلَى قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ ثُمَّ عَمِلَتْ النَّصَارَى عَلَى قِيرَاطٍ قِيرَاطٍ ثُمَّ أَنْتُمْ الَّذِينَ تَعْمَلُونَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغَارِبِ الشَّمْسِ عَلَى قِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ فَغَضِبَتْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً قَالَ هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ شَيْئًا قَالُوا لَا فَقَالَ فَذَلِكَ فَضْلِي أُوتِيهِ مَنْ أَشَاءُ
Sesungguhnya perumpamaan kalian dibandingkan orang-orang Yahudi dan Nashrani seperti seseorang yang memperkerjakan para pekerja yang dia berkata; “Siapa yang mau bekerja untukku hingga pertengahan siang dengan upah satu qirath, maka orang-orang Yahudi melaksanakannya dengan upah satu qirath per satu qirath. Lalu orang-orang Nashrani mengerjakannya dengan upah satu qirath per satu qirath. Kemudian kalian mengerjakan mulai dari shalat ‘Ashar hingga terbenamnya matahari dengan upah dua qirath per dua qirath. Maka orang-orang Yahudi dan Nashrani marah seraya berkata: “Kami yang lebih banyak amal namun lebih sedikit upah!” Lalu orang itu berkata; “Apakah ada yang aku zhalimi dari hak kalian?” Mereka menjawab; “Tidak ada”. Orang itu berkata; “Itulah karunia dari-Ku yang Aku memberikannya kepada siapa yang aku kehendaki”.” (HR. Bukhari & Muslim)
Subhanallah..
Saudara-saudaraku sekalian, ini merupakan umat yang betul-betul Allah subhanahu wa ta’ala berkahi. Dalam masalah waktu, demikian pula didalam masalah pahala disisiNya. Maka dari itu berbahagialah kita sebagai umat Islam yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala keistimewaan tersebut.
Setengah lebih penduduk surga adalah umat Islam
Diantara keistimewaan umat Islam adalah bahwasanya surgam, setengahnya lebih adalah dari umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam haditsnya:
خُيِّرْتُ بَيْنَ الشَّفَاعَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ لِأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْفَى أَتُرَوْنَهَا لِلْمُتَّقِينَ لَا وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ الْخَطَّائِينَ الْمُتَلَوِّثِي
Saya di suruh memilih antara setengah ummatku akan di masukkan ke surga dengan di beri syafa’at, maka saya memilih syafa’at, karena sesungguhnya syafa’at lebih mencakup dan lebih mencukupi, bagaimana pendapat kalian, apakah ia hanya di berikan kepada orang-orang yang bertakwa saja? Tidak, akan tetapi ia di berikan juga terhadap orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang banyak kesalahan.” (HR. Ibnu Majah no. 4301)
Maka hadits ini menunjukkan akan sangat banyak umat Islam yang akan masuk ke dalam surga. Sehingga menempati lebih dari setengah penduduk surga.
Kitab suci yang tidak pernah berubah
Diantara keistimewaan umat Islam bahwasanya mereka diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kitab suci yang takkan pernah berubah sampai akhir zaman. Al-Qur’an langsung Allah jaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala sendiri. Sementara kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an penjagaannya diserahkan kepada pendeta-pendeta mereka. Allah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ ﴿٩﴾
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr[15]: 9)
Adapun Taurat dan Injil dan kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an maka penjagaannya diserahkan kepada ulama-ulama mereka. Karena setelah Rasulullah tidak akan ada lagi Nabi. Akan tetapi sementara Bani Israil, mereka senantiasa dipimpin oleh para Nabi. Apabila Nabi mereka meninggal, diganti lagi dengan Nabi berikutnya. Sehingga wahyu tidak terputus. Sementara dizaman kita, semenjak Rasulullah meninggal dunia, wahyu terputus selamanya. Maka Allah pun akan menjaga Al-Qur’an sampai akhir zaman.
Saudara-saudaraku sekalian..
Kaum Mukminin diberikan hak untuk memberi syafa’at
Diantara keistimewaan umat Islam yang Allah berikan kepada kita yaitu bahwasannya kaum mukminin dari umat Islam diberikan oleh Allah hak untuk memberikan syafa’at pada hari kiamat. Disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari:
Bahwasannya apabila kaum mukminin telah melewati jembatan shirath yang terbentang di atas api neraka, mereka akan kembali kepada Allah lalu mereka berkata kepada Allah:
رَبَّنَا كَانُوا يَصُومُونَ مَعَنَا وَيُصَلُّونَ وَيَحُجُّونَ فَيُقَالُ لَهُمْ أَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ فَتُحَرَّمُ صُوَرُهُمْ عَلَى النَّارِ فَيُخْرِجُونَ خَلْقًا كَثِيرًا قَدْ أَخَذَتْ النَّارُ إِلَى نِصْفِ سَاقَيْهِ وَإِلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ يَقُولُونَ رَبَّنَا مَا بَقِيَ فِيهَا أَحَدٌ مِمَّنْ أَمَرْتَنَا…
Wahai Rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, salat bersama kami, dan berhaji bersama kami.” Maka dikatakan kepada mereka; “keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui.” Maka bentuk-bentuk mereka hitam kelam karena terpanggang api neraka, kemudian mereka mengeluarkan begitu banyak orang yang telah di makan neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata; “Wahai Rabb kami tidak tersisa lagi seseorang pun yang telah engkau perintahkan kepada kami.” (HR. Muslim)
Diantara keistimewaan umat Islam, bahwasanya nanti dihari kiamat umat Islam akan datang dalam keadaan wajah mereka putih. Demikian pula kaki dan tangan mereka pun putih karena bekas air wudhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ
Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena sisa air wudhu” (HR. Bukhari)
Subhanallah.. Bahkan disebutkan dalam hadits riwayat Muslim bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat rindu ingin melihat saudara-saudaranya yang belum datang setelah itu. Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana engkau akan mengenal umatmu yang akan datang?” Kata Rasulullah, “Seperti seseorang mengenal kudanya yang ubun-ubunnya putih sementara badannya hitam di tengah-tengah kuda-kuda yang hitam. Pasti ia akan mengenalnya.” Demikian pula umat Islam akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ubun-ubun mereka bercahaya dikarenakan mereka suka berwudhu dan shalat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. 
أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

KHUTBAH KEDUA TENTANG DIA TIADA MELAHIRKAN DAN TIDAK PULA DILAHIRKAN

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

Ummatal Islam,
Diantara keistimewaan umat Islam adalah bahwa mereka tidak akan mungkin bersepakat diatas kesesatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ
Umatku tidak mungkin bersepakat di atas kesesatan.” Sementara umat-umat selain kaum muslimin, mereka bisa bersepakat diatas kesesatan. Sedangkan umat Islam dijaga oleh Allah dan tidak mungkin mereka bersepakat diatas kesesatan. Tidak ada satupun kesesatan kecuali para ulama telah menjelaskannya.
Banyak sekali keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh umat Islam. Maka kita berusaha untuk bersyukur kepada Allah dengan cara terus mempelajari Islam. Agama yang Allah ridhai, yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi dan Rasul seluruhnya. Seluruh Nabi, seluruh Rasul, mereka berada diatas agama Islam. Agama yang hakikatnya menyerahkan diri kita kepada Allah secara total. Agama yang hakikatnya menjadikan seorang hamba tunduk dan patuh kepada pencipta langit dan bumi. Agama yang hakikatnya menjadikan seorang hamba menjadi mulia dengan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena memang Islam menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju terang benderang, dari api neraka menuju surga Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itulah Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kita nikmat yang begitu besar ketika kita dilahirkan di atas Islam, ketika kita diberikan hidayah kepada Islam. Maka berusahalah saudaraku sekalian, kita mendalami tentang agama kita ini. Karena kelak di kuburan kita akan ditanya tentang agama ini, akan ditanya tentang Rasul yang membawa agama ini yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴿٥٦﴾
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
إنك سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعوَات
اللهُمَّ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوابُ الرَّحِيم
اللهُمَّ وتقبل اعمالنا يا رب العالمين
اللهُمَّ اِنَّا نَسْاَلُكَ الجَنَّه وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّار
اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عباد الله:
إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ﴿٩٠﴾
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

Menghadapi taqdir yang buruk

Bukanlah yang dimaksud dengan kata takdir dalam frasa “takdir buruk” pada judul di atas adalah perbuatan Allah menakdirkan suatu peristiwa....