Yang dimaksud ilmu di sini adalah
Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dipahami dengan pemahaman Salafush Shalih. Inilah
definisi dari para imam ahli ilmu seperti Imam Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin,
Ibnul Mubarak, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Ats-Tsauri, Al-Auzai, Fudhail,
Syafii, Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain.
1. Ahli Ilmu Dijadikan Allah Rujukan bagi Manusia di Bumi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ
كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
“Bertanyalah kepada ahli dzikir
jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl [16]: 43)
Ahli dzikir artinya ahli ilmu
yaitu ahli Al-Qur’an dan As-Sunnah. Makna ini diambil dari ayat dalam surat
Al-Hijr dan Thaha. Dalam ayat ini Allah lebih mengutamakan ahli ilmu daripada
orang bodoh dan menyuruh orang bodoh untuk bertanya kepada ahli ilmu.
2. Ahli Ilmu Dijadikan Allah Sebagai Saksi Kalimat Tauhid
Allah berfirman:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ
إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ
إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan.
Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).
Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Ali Imran [3]: 18)
Allah menjadikan persaksian Laa
Ilaaha Illallah dari tiga pihak, yaitu Allah sendiri, malaikat, dan ahli ilmu.
Ini menunjukkan keutamaan ahli ilmu karena persaksian hanya diambil dari orang
khusus.
Dalam ayat ini ada 4 keutamaan
ahli ilmu:
1.
Allah menjadikan mereka sebagai saksi kalimat teragung yang karenanya Allah
menciptakan Surga dan Neraka, mengutus para Rasul dan Kitab, dan menciptakan
manusia dan jin.
2.
Allah mengiringkan nama ahli ilmu dengan Rabb semesta alam dan makhluk
mulia para malaikat.
3.
Allah mengutamakan ahli ilmu daripada manusia lainnya.
4.
Ahli ilmu adalah orang mulia dan istimewa karena persaksian kalimat
termulia dan istimewa tidak diambil kecuali dari orang mulia dan istimewa.
3.
Manusia Terbaik Disuruh Menjadi Ahli Ilmu
Allah berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا
اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan
(Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa)
orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu
berusaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad [47]: 19)
Allah menyuruh Nabi-Nya untuk belajar dan memahami
kalimat tauhid, menunjukkan belajar lebih utama daripada beribadah tanpa ilmu.
4. Celaan kepada Kebodohan Menunjukkan Sebaliknya
Dari Jabir Radhiyallahu
‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ
السُّؤَالُ
“Sungguh obat kebodohan adalah
bertanya.” (HR. Abu Dawud no. 336 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)
Hadits ini berbicara tentang
orang yang meninggal akibat fatwa dari orang-orang bodoh. Mereka berfatwa tanpa
ilmu dan tidak mau menkonfirmasikan kepada Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam. Akhirnya beliau marah dan berkata, “Mereka telah
membunuhnya. Semoga Allah membunuh mereka.” Lalu beliau bersabda seperti di
atas.
5. Ahli Ilmu Adalah Pemilik Mata Sebenarnya
Allah berfirman:
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا
أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا
يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
“Adakah orang yang mengetahui
bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan
orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil
pelajaran.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 19)
Ilmu adalah cahaya untuk melihat
hakikat segala urusan. Hakikat melihat bukan dengan mata tetapi dengan hati.
Inilah penglihatan yang tajam dan sangat bermanfaat.
وَيَرَى
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ
الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Dan orang-orang yang diberi ilmu
melihat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan
menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”
(QS. Saba [34]: 6)
6. Ilmu Mewariskan Khasyyah (Rasa Takut) dan Khasyyah Adalah Ciri Penghuni
Surga
Dalam firman-Nya:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ
رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى * فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Dan adapun orang-orang yang
takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (QS. An-Naziat [79]: 40-41)
إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلأذْقَانِ سُجَّدًا
“Sesungguhnya orang-orang yang
diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka
menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (QS. Al-Isra [17]: 107)
7. Ahli Ilmu Adalah Pewaris Para Nabi
Yang dimaksud adalah Nabi
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Penyebutan para Nabi untuk
menegaskan keutamaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di
mana apa yang beliau bawa mencakup seluruh ajaran para Nabi. Yang diwariskan
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukanlah dinar dan dirham
tetapi ilmu berupa cahaya Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Dari Abu Darda Radhiyallahu
‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي
فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ
المَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ العِلْمِ، وَإِنَّ
العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ حَتَّى
الحِيتَانُ فِي المَاءِ، وَفَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ، كَفَضْلِ القَمَرِ
عَلَى سَائِرِ الكَوَاكِبِ، إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ
الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا
العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Siapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu
maka Allah akan perjalankan (mudahkan) ia jalan menuju Surga. Sungguh para
malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena ridha dengan penuntut ilmu.
Sungguh orang alim benar-benar dimintakan ampun oleh makhluk di langit dan di
bumi hingga ikan di laut. Keutamaan ahli ilmu dibanding ahli ibadah bagaikan
keutamaan bulan atas seluruh bintang. Para ahli ilmu adalah perawis para Nabi.
Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham tetapi mewariskan ilmu. Siapa yang
mengambilnya berarti telah mengambil keuntungan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi
no. 2682, Abu Dawud no. 3641, dan Ibnu Majah no. 223. Dishahihkan Syaikh
Al-Albani)
8. Penuntut Ilmu Disamakan dengan Pahala Mujahid Fi Sabilillah
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallambersabda:
مَنْ جَاءَ
مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ
فَهُوَ فيِ مَنزِلَةِ المُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ الله، وَمَنْ جَاءَهُ لِغَيْرِ
ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ
“Siapa mendatangi Masjidku ini
tanpa tujuan selain kebaikan yang ingin dipelajarinya atau diajarkannya maka ia
berada di kedudukan mujahid fi sabilillah. Siapa yang mendatanginya untuk
tujuan selain ini maka ia berada dalam kedudukan orang yang melihat-lihat
barang orang lain.” (Shahihul Jami’ no. 6184)
9. Ahli Ilmu Dikecualikan dari Laknat
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallambersabda:
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ
مَا فِيهَا، إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ، وَمَا وَالَاهُ، أَوْ عَالِمًا، أَوْ
مُتَعَلِّمًا
“Dunia terlaknat dan terlaknat
pula apa yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan
kepada-Nya, atau orang alim, atau pelajar.” (HR. Ibnu Majah no. 4112 dan
dihasankan Syaikh Al-Albani)
10. Ahli Ilmu Orang Terbaik dari Seluruh Manusia
Dari Abu Umamah Radhiyallahu
‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ
كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ
“Keutamaan ahli ilmu atas ahli
ibadah seperti keutamanku atas orang paling rendah dari kalian.” (HR.
At-Tirmidzi no. 2685 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani)
11. Allah Menyuruh Seluruh Manusia Iri kepada Ahli Ilmu
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu
‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي
اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ
اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي
أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ
آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي
أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ
“Tidak boleh hasad (ghibthah,
mengharapkan memiliki nikmat orang lain tanpa mengharapkan nikmat itu hilang
darinya) kecuali kepada dua orang, yaitu [pertama] seseorang yang Allah ajari
al-Qur`an lalu dia membacanya di malam dan siang hari lalu tetangganya
mendengar hal itu lalu berkata, ‘Andai saja aku diberi seperti apa yang
diberikan kepada fulan pasti aku akan melakukan seperti yang dilakukan fulan
itu.’ [Kedua] seseorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan di dalam
kebenaran lalu seseorang berkata, ‘Andai saja aku diberi seperti apa yang
diberikan kepada fulan pasti aku akan melakukan seperti yang dilakukan fulan
itu.’” (HR. Al-Bukhari no. 5026)
12. Pahala Ahli Ilmu Tidak Terputus Meski Sudah Meninggal
Yakni pahalanya tetap mengalir
setelah meninggalnya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhubahwa
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ
انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ
جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputus semua
amalnya (tidak bisa lagi beramal) kecuali 3 orang, yaitu shadaqah jariyah, ilmu
yang dimanfaatkan orang, atau anak shalih yang mendoakan yang mendoakannya.”
(HR. Muslim no. 1631)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar